Home/Tragedi Sora: Bakar Duit Rp24 Triliun Per Hari, OpenAI Akhirnya Menyerah!
AI

Tragedi Sora: Bakar Duit Rp24 Triliun Per Hari, OpenAI Akhirnya Menyerah!

DIGIxTEKNO30 Maret 20264 min baca

Ringkasan Cepat

  • Kabar mengejutkan datang dari dunia kecerdasan buatan (AI).

  • OpenAI , perusahaan di balik ChatGPT, secara resmi mengumumkan penutupan layanan Sora pada 24 Maret 2026 .

  • Keputusan ini menjadi babak akhir bagi aplikasi pembuatan video berbasis AI yang sempat menjadi fenomena global dengan lebih dari 100 juta unduhan hanya dalam lima hari pertama peluncurannya.

AI Optimized Brief


Kabar mengejutkan datang dari dunia kecerdasan buatan (AI). OpenAI, perusahaan di balik ChatGPT, secara resmi mengumumkan penutupan layanan Sora pada 24 Maret 2026. Keputusan ini menjadi babak akhir bagi aplikasi pembuatan video berbasis AI yang sempat menjadi fenomena global dengan lebih dari 100 juta unduhan hanya dalam lima hari pertama peluncurannya.

Penutupan ini mencakup seluruh ekosistem Sora, mulai dari aplikasi mandiri di iOS dan Android, layanan API untuk pengembang, hingga integrasi video dalam ChatGPT. Laman resmi Sora pun ikut ditutup, meninggalkan kenangan bagi para pengguna yang sempat merasakan kemudahan menghasilkan video berkualitas tinggi hanya dari perintah teks.

Biaya Rp24 Triliun per Hari, Pendapatan Hanya Rp34 Miliar

Apa yang sebenarnya terjadi di balik penutupan mendadak ini? Meskipun Sora mencatat kesuksesan luar biasa dari sisi jumlah pengguna, faktor ekonomi menjadi pukulan telak yang tak mampu ditahan OpenAI.

Berdasarkan analisis biaya operasional, Sora menghabiskan sekitar USD 1,5 miliar per hari atau setara dengan Rp24 triliun. Dalam setahun, biaya yang dikeluarkan mencapai angka fantastis USD 5,4 miliar. Pengeluaran ini terutama digunakan untuk sewa GPU (chip AI), konsumsi listrik yang sangat besar, dan biaya inferensi yang diperlukan untuk memproses setiap permintaan pembuatan video.

Namun, pendapatan yang dihasilkan Sora sangat kontras dengan biaya yang dikeluarkan. Total pendapatan dari pembelian dalam aplikasi (in-app purchase) sejak peluncuran hanya mencapai USD 2,1 juta atau sekitar Rp34 miliar. Dengan kata lain, dalam satu hari saja, biaya operasional Sora hampir 1.000 kali lipat lebih besar dibandingkan total pendapatan yang berhasil dikumpulkan sepanjang masa hidupnya.

IPO dan Persaingan Internal: Dua Sisi Mata Pisau

Keputusan mengejutkan ini tak lepas dari strategi besar OpenAI yang tengah bersiap melakukan Penawaran Saham Perdana (IPO) pada kuartal keempat tahun 2026. Untuk menarik investor, perusahaan harus menunjukkan profitabilitas yang solid. Sora, yang oleh manajemen disebut sebagai "proyek sampingan" yang merugi, dinilai sebagai beban yang harus dipangkas.

Selain itu, ada dinamika internal yang menarik. Sumber daya komputasi yang langka dan mahal sempat menjadi perdebatan di kalangan karyawan OpenAI. Banyak yang mempertanyakan mengapa sumber daya tersebut dialokasikan ke Sora, sementara produk inti lain yang lebih potensial secara bisnis justru kekurangan pasokan.

Pukulan Berat bagi Disney: Kemitraan Rp16 Triliun Sirna


Penutupan Sora juga berdampak langsung pada mitra strategis OpenAI, yaitu The Walt Disney Company. Pada Desember 2025, keduanya baru saja mengumumkan kemitraan besar senilai USD 1 miliar (sekitar Rp16 triliun), yang memungkinkan Disney menggunakan lebih dari 200 karakter ikoniknya—termasuk dari waralaba Star Wars, Pixar, dan Marvel—dalam video yang dihasilkan Sora.

Disney pun mengonfirmasi bahwa perjanjian tersebut tidak akan dilanjutkan. Meskipun Disney menyatakan menghormati keputusan OpenAI, hilangnya akses terhadap teknologi video generatif dari mitra terbesarnya menjadi pukulan tersendiri bagi raksasa hiburan itu.

Dari Aplikasi Viral Menuju Robotika

Meski terlihat sebagai langkah mundur, OpenAI menyebut penutupan Sora sebagai bagian dari "transformasi besar" menuju fokus bisnis yang lebih berkelanjutan. Perusahaan akan mengkonsolidasikan seluruh sumber daya ke dalam sebuah "super app" yang menggabungkan ChatGPT, Codex, dan browser Atlas menjadi satu ekosistem terpadu.

CEO Sam Altman mengungkapkan bahwa tim di balik Sora akan dialihkan ke penelitian jangka panjang yang lebih fundamental. Fokus utamanya kini adalah pengembangan "world model" dan teknologi robotika—dua bidang yang dinilai memiliki potensi aplikasi dunia nyata lebih besar dibandingkan sekadar menghasilkan video viral.

25 Bulan yang Mengguncang Industri

Sejak pertama kali diperkenalkan pada Februari 2024 hingga akhirnya ditutup pada Maret 2026, Sora tercatat hidup selama sekitar 25 bulan. Meskipun masa hidupnya relatif singkat, dampaknya terhadap industri kreatif dan persepsi publik tentang kemampuan AI generatif sangat besar.

Penutupan Sora menjadi pelajaran berharga bagi industri teknologi: bahwa popularitas dan jumlah unduhan yang fantastis tidak selalu menjamin keberlanjutan bisnis, terutama ketika biaya operasional berada pada skala yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Kini, publik menantikan langkah selanjutnya dari OpenAI. Apakah "super app" yang disiapkan mampu menggantikan kehadiran Sora? Atau justru penutupan ini menjadi awal dari konsolidasi industri AI menuju profitabilitas yang sesungguhnya? Waktu yang akan menjawab.

Share: